Selasa, 25 Agustus 2015
Minggu, 23 Agustus 2015
Kamis, 20 Agustus 2015
BEKASI KOTA PAHLAWAN
Kota sebagai A Buffering Zone.
Kota Bekasi dan terletak di daerah pinggiran timur ibu kota, Jakarta. Memiliki posisi sebagai zona penyangga Jakarta di timur, Bekasi menampung orang perkotaan yang bolak-balik ke sana kemari antara Jakarta dan Bekasi. Kondisi ini telah membuat kota diisi dengan sekitar 2,4 juta orang dan menjadi kota terbesar keempat di negara ini.
Kota ini dibagi menjadi 12 kecamatan bernama Bekasi Barat, Bekasi Timur, Selatan Bekasi, Bekasi Utara, Medan Satria, Bantar Gebang, Pondok Gede, Jakasampurna, Jatiasih, Pondok Melati dan Mustika Jaya. Saya sendiri tinggal di bagian timur dari kota ini.
Bekasi adalah seperti melting pot kecil, orang-orang dari berbagai negara datang dan tinggal di kota ini. Berkat "molek Jakarta" yang terus menggoda orang luar untuk datang meskipun untuk pendatang terampil semua mereka menemukan di dalamnya hanya kehidupan keras dan kesengsaraan.
Pertumbuhan penduduk di Bekasi menunjukkan keunikan. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya urbanisasi membawa orang dari bagian lain negara itu untuk masuk dan tinggal di Bekasi. Mereka datang sebagian besar untuk satu alasan utama: memikat kesempatan kerja yang tersedia di Jakarta dan mereka memilih Bekasi yang terletak hanya melempar batu dari itu kota metropolitan. Zona penyangga seperti Bekasi adalah tujuan yang tepat bagi mereka untuk tetap karena otoritas Jakarta menolak orang untuk menetap kecuali mereka memiliki pekerjaan tetap. Pada sisi warga Jakarta asli lainnya yang disebut Betawi "menyapu" dari tempat asal mereka dan pindah ke daerah pinggiran kota sekitar Jakarta termasuk ke Bekasi. Itu terjadi sebagai konsekuensi dari perkembangan pesat dalam Jakarta yang membutuhkan banyak lahan untuk dikembangkan menjadi properti baru dan infrastruktur.
Sumber: Agus Fanani
Mereka Batawineses yang mewarisi bidang tanah dari nenek moyang mereka bersedia untuk menjual untuk harga yang sangat menarik dan memutuskan untuk membeli tanah murah di daerah lain di zona penyangga. Hal ini menunjukkan bahwa zona penyangga Jakarta yang memiliki akronim populer: Jabodetabek, singkatan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi adalah daerah favorit bagi masyarakat kota untuk hidup berdasarkan beberapa alasan:
Kota yang dikenal sebagai Kota Patriot.
Bekasi juga dikenal kota Patriot. Nama ini diberikan dating kembali ke sejarah ketika bangsa berjuang untuk mendapatkan kemerdekaan dari pendudukan asing.
Ribuan pejuang mengorbankan hidup mereka di garis depan pertempuran. Setidaknya ada threebig pertempuran heroik yang mengambil banyak korban:
Bekasi lautan api. Itu terjadi pada bulan November 1945 ketika lebih dari 8 desa di Bekasi dibakar membuat langit begitu gelap ditutupi dengan mengepul asap hitam dan menewaskan ribuan orang.
Rawa Gede pembantaian, itu terjadi pada 9 Desember, 1947 ketika pasukan musuh mencoba untuk mencari desa Rawa Gede untuk menemukan seorang komandan bernama Kapten Lukas Kustario tapi akhirnya sia-sia. Mereka marah dan menyalahkan orang-orang lokal. Penduduk desa, terutama laki-laki dan anak-anak laki-laki, dibantai dan mengakibatkan lebih dari 400 orang tak berdosa tewas.
Sasak Kapuk pertempuran. Ini adalah pertempuran besar lain yang dipimpin oleh pahlawan KH Noer Alie. Pertempuran berlangsung pada 29 November 1945 antara dua kota Karawang -Bekasi. Ribuan orang tewas dalam perang ini sehingga menyentuh hati dan pikiran seorang penyair terkenal Chairil Anwar menulis puisi terkenal "Antara Karawang Bekasi" (Antara Karawang-Bekasi) pada masa itu.
Upeti dituangkan ke kepahlawanan mereka dalam bentuk monumen dibangun di beberapa tempat dari Bekasi: Revolusi Monumen Bekasi Orang-orang di alun-alun kota, Revolusi Monumen Perjuangan Rakyat di Bekasi, datar Rumah Monument, Menunjukkan Bambu Monumen dan banyak lagi.
Ya, monumen membuktikan bahwa bambu runcing adalah senjata yang paling umum untuk digunakan selama perang revolusi (1945-1949) oleh prajurit melawan pasukan musuh yang bersenjata dengan persenjataan modern.
Cepat Pembangunan Kota.
Saya pindah ke Bekasi pada tahun 1992. Ini digunakan untuk menjadi kecil dan tenang dengan wajah biasa atau pedesaan didominasi kota. Hanya ada beberapa bangunan bertingkat ditemukan. Jalan-jalan yang kasar, beberapa bahkan tidak ada belum atau masih dalam perencanaan di cetak biru. Saya masih ingat pengalaman saya sekitar tahun 1995 ketika saya mencoba untuk memasuki kota dari salah satu jalan utama yang disebut Jl. KH. Noer Alie atau jalan Kali Malang dari Jakarta, saya tidak mampu mencapai Bekasi sebagai dekat ujung jalan, dekat yang terletak sebuah mal besar "Metropolitan Mall" hari ini, tidak sepenuhnya dibangun belum.
Bekasi komuter menyetor mobil dan sepeda motor mereka di tempat parkir yang tersedia saat mereka pergi bekerja di Jakarta dengan kereta api.
Bekasi komuter menyetor mobil dan sepeda motor mereka di tempat parkir yang tersedia saat mereka pergi bekerja di Jakarta dengan kereta api.
Bekasi saat ini memiliki berubah banyak sebagai hasil dari perkembangan pesat. Itu telah berkembang menjadi besar, daerah perkotaan yang padat. Mobil dan sepeda motor telah secara signifikan menempati jalan-jalan dan membuat kemacetan lalu lintas di beberapa daerah seperti adegan sehari-hari. Perumahan menjamur, mal dan pusat perbelanjaan yang ditemukan di banyak bagian dan akan meningkat jumlahnya di tahun-tahun mendatang. Mereka pusat perbelanjaan menawarkan kenyamanan dalam berbelanja dan mengintensifkan promosi sehingga kehadiran mereka juga menjadi ancaman potensial untuk pasar tradisional yang tampaknya tidak memiliki kekuatan untuk bersaing meskipun mereka juga menawarkan keuntungan untuk pembeli dalam hal yang harga umumnya lebih murah dan selalu dinegosiasikan.
Efek samping lain yang mengerikan dari pembangunan adalah jumlah kendaraan di jalan, khususnya sepeda motor dan mobil. Ada saat-saat seperti jam sibuk di pagi hari, di malam hari atau pada hari-hari raya ketika sebagian besar kendaraan yang dioperasikan dan melebihi kapasitas jalan-jalan sehingga masalah lalu lintas yang parah terjadi. Efek yang diprediksi: kemacetan lalu lintas, polusi udara, menekan-buang waktu dan energi adalah beberapa untuk disebutkan.
Konstruksi perumahan baru yang intensif dan ekstensif terlalu sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk. Banyak ruang terbuka yang digunakan untuk menjadi daerah tangkapan air telah mengeras dengan semen dan aspal. Perkembangan ini memang perlu bagi kita untuk hidup lebih sopan, tetapi di sisi lain itu membawa konsekuensi yang tidak diinginkan seperti akumulasi sampah yang mencemari saluran air limbah, banjir, dan trigonometri masalah yang lebih sosial.
Kita semua percaya bahwa pembangunan selalu memiliki dua wajah yang membawa kebaikan dan keburukan. Pandangan yang komprehensif saya tentang kota ini masih positif pula karena kota telah memberikan penduduknya dengan kenyamanan penting seperti meningkatnya jumlah sekolah yang berkualitas, rumah sakit dan meningkatnya jumlah mal dan pusat perbelanjaan juga bermanfaat bagi kita dalam menawarkan produk yang lebih kompetitif. Saya selalu berharap bahwa kota saya memberikan nilai lebih positif daripada sisi negatif.
Sumber: Agus Fanani
SEJARAH KOTA BEKASI
Sejarah Kota Bekasi
Dayeuh Sundasembawa inilah daerah asal Maharaja
Tarusbawa (669-723 M) pendiri Kerajaan Sunda dan seterusnya menurunkan
Raja-Raja Sunda sampai generasi ke-40 yaitu Ratu Ragumulya (1567-1579 M)
Raja Kerajaan Sunda (disebut pula Kerajaan Pajajaran) yang terakhir.
Wilayah Bekasi tercatat sebagai daerah yang banyak
memberi infirmasi tentang keberadaan Tatar Sunda pada masa lampau.
Diantaranya dengan ditemukannya empat prasasti yang dikenal dengan nama
Prasasti Kebantenan. Keempat prasasti ini merupakan keputusan (piteket)
dari Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi, Jayadewa 1482-1521 M) yang
ditulis dalam lima lembar lempeng tembaga.
Sejak abad ke 5 Masehi pada masa Kerajaan
Tarumanagara abad kea 8 Kerajaan Galuh, dan Kerajaan Pajajaran pada abad
ke 14, Bekasi menjadi wilayah kekuasaan karena merupakan salah satu
daerah strategis, yakni sebagai penghubung antara pelabuhan Sunda Kelapa
(Jakarta).
Sejarah Sebelum Tahun 1949
Kota Bekasi ternyata mempunyai sejarah yang sangat
panjang dan penuh dinamika. Ini dapat dibuktikan perkembangannya dari
jaman ke jaman, sejak jaman Hindia Belanda, pundudukan militer Jepang,
perang kemerdekaan dan jaman Republik Indonesia. Di jaman Hindia
Belanda, Bekasi masih merupakan Kewedanaan (District), termasuk
Regenschap (Kabupaten) Meester Cornelis. Saat itu kehidupan
masyarakatnya masih di kuasai oleh para tuan tanah keturunan Cina.
Kondisi ini terus berlanjut sampai pendudukan militer Jepang. Pendudukan
militer Jepang turut merubah kondisi masyarakat saat itu. Jepang
melaksanakan Japanisasi di semua sektor kehidupan. Nama Batavia diganti
dengan nama Jakarta. Regenschap Meester Cornelis menjadi KEN Jatinegara
yang wilayahnya meliputi Gun Cikarang, Gun Kebayoran dan Gun Matraman.
Setelah proklamasi kemerdekaan RI tanggal 17
Agustus 1945, struktur pemerintahan kembali berubah, nama Ken menjadi
Kabupaten, Gun menjadi Kewedanaan, Son menjadi Kecamatan dan Kun menjadi
Desa/Kelurahan. Saat itu Ibu Kota Kabupaten Jatinegara selalu
berubah-ubah, mula-mula di Tambun, lalu ke Cikarang, kemudian ke Bojong
(Kedung Gede), pada waktu itu Bupati Kabupaten Jatinegara adalah Bapak
Rubaya Suryanaatamirharja.
Tidak lama setelah pendudukan Belanda, Kabupaten
Jatinegara dihapus, kedudukannya dikembalikan seperti zaman Regenschap
Meester Cornelis menjadi Kewedanaan. Kewedanaan Bekasi masuk kedalam
wilayah Batavia En Omelanden. Batas Bulak Kapal ke Timur termasuk
wilayah negara Pasundan di bawah Kabupaten Kerawang, sedangkan sebelah
Barat Bulak Kapal termasuk wilayah negara Federal sesuai Staatsblad Van
Nederlandsch Indie 1948 No. 178 Negara Pasundan.
Sejarah Tahun 1949 sampai Terbentuknya Kota Bekasi
Sejarah setelah tahun 1949, ditandai dengan aksi
unjuk rasa sekitar 40.000 rakyat Bekasi pada tanggal 17 Februari 1950 di
alum-alun Bekasi. Hadir pada acara tersebut Bapak Mu’min sebagai
Residen Militer Daerah V. Inti dari unjuk rasa tersebut adalah
penyampaian pernyataan sikap sebagai berikut :
1. Rakyat Bekasi tetap berdiri di belakang Pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
2. Rakyat bekasi mengajukan usul kepada Pemerintah Pusat agar kabupaten Jatinegara diubah menjadi Kabupaten Bekasi.
Akhirnya berdasarkan UU Nomor 14 Tahun 1950
terbentuklah Kabupaten Bekasi, dengan wilayah terdiri dari 4 kewedanaan,
13 kecamatan (termasuk Kecamatan Cibarusah) dan 95 desa. Angka-angka
tersebut secara simbolis diungkapkan dalam lambang Kabupaten Bekasi
dengan motto “SWATANTRA WIBAWA MUKTI”. Pada tahun 1960 kantor Kabupaten
Bekasi berpindah dari Jatinegara ke kota Bekasi (jl. H Juanda). Kemudian
pada tahun 1982, saat Bupati dijabat oleh Bapak H. Abdul Fatah Gedung
Perkantoran Pemda Kabupaten Bekasi kembali dipindahkan ke Jl. A. Yani
No.1 Bekasi. Pasalnya perkembangan Kecamatan Bekasi menuntut
dimekarkannya Kecamatan Bekasi menjadi Kota Administratif Bekasi yang
terdiri atas 4 kecamatan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun
1981, yaitu Kecamatan Bekasi Timur, bekasi Selatan, Bekasi Barat dan
Bekasi Utara, yang seluruhnya menjadi 18 kelurahan dan 8 desa. Peresmian
Kota Administratif Bekasi dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri pada
tanggal 20 April 1982, dengan walikota pertama dijabat oleh Bapak H.
Soedjono (1982 – 1988). Tahun 1988 Walikota Bekasi dijabat oleh Bapak
Drs. Andi Sukardi hingga tahun 1991 (1988 - 1991, kemudian diganti oleh
Bapak Drs. H. Khailani AR hingga tahun (1991 – 1997)
Pada Perkembangannya Kota Administratif Bekasi
terus bergerak dengan cepat. Hal ini ditandai dengan pertumbuhan
penduduk yang cukup tinggi dan roda perekonomian yang semakin bergairah.
Sehingga status Kotif. Bekasi pun kembali di tingkatkan menjadi
Kotamadya (sekarang “Kota”) melalui Undang-undang Nomor 9 Tahun 1996
Menjabat Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II Bekasi saat itu adalah
Bapak Drs. H. Khailani AR, selama satu tahun (1997-1998). Selanjutnya
berdasarkan hasil pemilihan terhitung mulai tanggal 23 Pebruari 1998
Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II Bekasi definitif dijabat oleh
Bapak Drs. H Nonon Sonthanie (1998-2003).
Seiring dengan berlakunya UU Nomor 22 Tahun 1999 Tentang Otonomi Daerah telah mengubah paradigma penyelenggaraan pemerintah daerah. Atas landasan itu pula nomenklatur pemerintah daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Bekasi berubah menjadi Kota Bekasi. Berdasarkan UU Nomor 22/1999, Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 25 Tahun 2000 Tentang Kewenangan Pemerintah dan Provinsi sebagai Daerah Otonomi serta PP Nomor 84 Tahun 2000 Tentang Pedoman Organisasi Pejabat Daerah, telah melahirnya peraturan daerah Nomor 9, 10, 11 dan 12 Tentang Pengaturan Organisasi Perangkat Daerah.
Untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat lewat Perda (peraturan daerah) maka terbitlah Perda Nomor 14 Tahun 2000 yang menyesahkan terbentuknya 2 kecamatan baru: Kecamatan Rawa dan Medan Satria. Sehingga Kota Bekasi terdiri atas 10 kecamatan. Dan berdasarkan Perda Kota Bekasi Nomor 02 Tahun 2002 Tentang Penetapan Kelurahan, maka seluruh desa yang ada di Kota Bekasi berubah status menjadi kelurahan, sehingga Pemko (pemerintah kota) Bekasi mempunyai 52 pemerintahan di kelurahan.
Seiring waktu perjalanan Pemko Bekasi mengalami pemekaran kembali. Itu didukung oleh Perda Pemko Bekasi Nomor 4 Tahun 2004 Tentang Pembentukan Wilayah Administrasi kecamatan dan kelurahan, maka wilayah administrasi Kota Bekasi menjadi 12 kecamatan dan 56 kelurahan. Semua itu ditempuh untuk meningkatkan pelayanan dan mengayomi masyarakat yang ada di wilayah Administrasi Kota Bekasi. Tak lama kemudian, terbitlah Keputusan DPRD Kota Bekasi Nomor 37-174.2/DPRD/2003 tertanggal 22 Februari 2003 tentang penetapan walikota Bekasi dan wakilnya periode 2003-2008. Yang dilanjutkan dengan keputusan Mendagri bernomor: 131.32-113 Tahun 2003 Tentang Pengesahan Walikota Bekasi, Jawa Barat. Dan keputusan Mendagri Nomor: 132.32-114 Tahun 2003 Tentang Pengesahan Walikota Bekasi, Jawa Barat H Akhmad Zurfaih HR, S.Sos yang didampingi oleh Mochtar Mohamad.
Menjelang hari kelahiran (jadi) Pemko Bekasi yang ke-9 tahun 2006, lokasi perkantoran atau pusat ibukota Pemko Bekasi dialihkan ke Jalan Jend. Ahmad Yani Nomor 1 Kecamatan Bekasi Selatan yang sebelumnya berpusat di Jalan Ir Juanda. Alasan pemindahan itu berlandaskan atas persetujuan penetapan pusat ibukota Pemko Bekasi yang disahkan oleh lembaga DPRD Kota Bekasi bernomor: 27/174.2/DPRD/2005 Tentang Persetujuan Pemindahan Pusat Ibukota Pemko Bekasi tertanggal 25 Juni Tahun 2005. Yang diketahui oleh Gubernur Jawa Barat dan Mendagri RI.
Di hari jadi Pemko Bekasi yang ke-10, yang bertepatan tanggal 11 Maret 2007, Pemko Bekasi telah melaksanakan berbagai aktivitas pemerintahan yang berpusat di Jl Jend Ahmad Yani No 1 Bekasi Selatan. Dan kondisi perkantoran representatif sebagai pusat dan pelayanan masyarakat Kota Bekasi.
Pada pemilu legislatif 2004 telah mengantarkan 54 orang wakil rakyat Kota Bekasi dari delapan partai politik: PKS (11), Golkar (9), PD (7), PAN (6), PDI-P (6), PPP (4) PDS (1), PBB (1). Periode 2004-2009, yang terpilih sebagai pimpinan DPRD Ketua H Rahmat Effendi, S.Sos, M.Si, (F-Golkar), didampingi oleh H Dadang Asgar Noor (F-PD) dan H Ahmad Saikhu (F-PKS).
By Riza F (rdo_tatausaha)
ASAL USUL NAMA KOTA BEKASI
INILAH ASAL-USUL NAMA BEKASI
Bekasi bukan kota sembarangan. Nama kota ini tercatat dalam sejarah melalui prasasti tugu tulis peninggalan Kerajaan Tarumanagara.
Asal-usul nama Bekasi secara filologis berasal dari candrabhaga. Candra berarti bulan atau sasi dalam bahasa Jawa Kuno. Dan bhaga berarti bagian. Jadi Candrabhaga berarti bagian dari bulan.
Pelafalan kata Candrabhaga kadang berubah menjadi Sasibhaga atau Bhagasasi. Namun dalam pengucapannya sering disingkat Bhagasi. Dan karena pengaruh bahasa Belanda sering ditulis Bacassie.
Di Stasiun Kereta Api Lemahabang pun pernah ditemukan plang nama Bacassie. Dan seiring waktu, kata Bacassie kemudian berubah menjadi Bekasi sampai sekarang.
Penggalian 2 Sungai
Pada masa pemerintahan Raja Purnawarman dari Kerajaan Tarumanagara, diperintahkan penggalian 2 sungai untuk kebutuhan irigasi. Dua Sungai itu yakni Sungai Candrabhaga (Kali Bekasi) dan Sungai Gomati.
Candrabhaga dan Gomati adalah 2 sungai yang terkenal di Tanah Hindu, India. Penggalian 2 sungai ini mengindikasikan mulai dibukanya lahan pertanian yang subur di daerah ini.
Selain itu, tujuan penggalian adalah mengalirkan air sungai tersebut ke laut, setelah melewati istana kerajaannya. Penggalian dilakukan pada tahun ke-22 masa pemerintahan Raja Purnawarman bulan phalguna dan caitra, bertepatan dengan bulan Februari dan April menurut perhitungan tahun Masehi.
Panjang galian 6.122 tumbak atau 11 kilometer. Diduga, saluran itu dibuat untuk mengatasi banjir yang selalu melanda daerah pertanian setiap kali hujan paling lebat melanda tanah Jawa Barat di bulan Januari dan Februari. Acara selamatan dan syukuran pun digelar para brahmana disertai pemberian hadiah berupa 1.000 ekor sapi.
Tak cuma Tarumanagara, sejumlah kerajaan lain juga pernah menjadikan Bekasi sebagai wilayahnya. Misalnya Padjajaran, Sumedanglarang (bagian dari Kerajaan Mataram), dan Jayakarta. Ada 1 lagi nama kerajayaan yang dipercaya pernah memerintah Bekasi, yakni Segara Pasir.
Dipercaya, Kerajaan Segara Pasir inilah yang pertama ada di Bekasi. Jauh sebelum Kerajaan Tarumanagara.
Berdasarkan UU Nomor 14 Tahun 1950, terbentuklah Kabupaten Bekasi, dengan wilayah terdiri dari 4 kewedanaan, 13 kecamatan (termasuk Kecamatan Cibarusah), dan 95 desa. Angka-angka tersebut secara simbolis diungkapkan dalam lambang Kabupaten Bekasi dengan motto 'Swatantra Wibawa Mukti'.
Pada perkembangannya, di Kabupaten Bekasi dibentuklah Kota Administratif Bekasi pada 1981 yang seluruhnya meliputi 4 kecamatan, 18 kelurahan, dan 8 desa. (Sun)
Sumber : liputan6.com
TERAPI IKAN BIKIN SEHAT KULIT
TIRTA PENOMBO
(TERAPI IKAN)
Garra rufa
Ikan Garra rufa aslinya hidup di sungai-sungai di negara Timur Tengah seperti di Turki, Syria, Iran dan Irak. Umurnya 4 sampai 6 tahun dengan panjang maksimal 12 cm. Tetapi, ikan yang digunakan untuk terapi adalah ikan yang masih kecil yang berumur 3-6 bulan, umumnya memiliki panjang 1,5 hingga 2 cm. Ikan ini dapat hidup pada air dengan suhu 0 hingga 43 derajat Celcius.
Pada masyarakat Turki, spa bersama ikan ini sudah dikenal sejak 200 tahun yang lalu. Tetapi, fish therapy ini baru marak dikenal di Asia, Eropa dan Amerika sejak tahun 2006. Pada awal penemuannya, ikan ini disangka sebagai ikan pemakan daging. Pada waktu itu, saat sekelompok orang berada di sungai Kangal, Turki, ikan-ikan ini mengerubungi kaki mereka. Tetapi, mereka tidak mendapati kaki mereka terluka bahkan mereka merasakan tubuh mereka terasa lebih segar. Itulah, awal mulanya sehingga ikan ini akhirnya dijadikan salah satu terapi untuk menyembuhkan penyakit.
Fish Therapy
Untuk mendapatkan manfaat yang maksimal, ada baiknya Anda memperhatikan kebersihan dan kesehatan kolam. Apakah kolam memiliki sistem filter yang baik? Bagaimana prosedur yang harus dilewati sebelum mencoba terapi ini? Sebaiknya, tersedia kolam khusus bagi penderita penyakit kulit tertentu yang tidak tergabung dengan kolam umum sehingga tidak menulari penyakit.
Sebelum mulai memasukkan kaki ke dalam kolam, kaki akan dibersihkan terlebih dahulu. Tujuannya agar kaki bersih dari debu, lotion atau zat kimia lainnnya yang dapat membuat ikan mabuk atau tidak mau mendekati kaki Anda. Pertama kali memasukkan kaki, Anda akan merasakan geli akibat "serbuan" ikan ini. Selanjutnya, Anda juga dapat merasakan seperti tersengat setrum kecil. Ikan kecil ini memang senang memakan sel kulit mati. Tetapi, karena jenis ikan ini tidak mempunyai gigi, maka tidak akan berbahaya dan melukai kaki Anda. Sebaliknya, Anda akan merasakan rasa geli karena diisap ikan ini. Mereka akan terus menempel pada kaki Anda sambil terus menerus memakan sel kulit mati.
Walaupun ikan ini senang makan kulit mati manusia, tetapi mereka juga diberi makanan ikan lainnya dan vitamin agar tetap sehat. Ini dilakukan agar ikan tetap sehat.
Manfaat Fish Spa
Karena memakan sel kulit mati yang ada, maka kaki Anda akan lebih bersih, terasa lebih halus dan dipercaya dapat mengobat penyakit kulit tertentu seperti eksem kering dan psoriasis (kulit merah dan bersisik). Saat menghisap kulit mati, ikan Garra rufa juga akan mengeluarkan air liur yang mengandung sejenis enzim dithranol (anthralin) yang akan merangsang pertumbuhan sel kulit baru. Manfaatnya, akan mengurangi rasa gatal pada kulit dan menyamarkan noda bekas luka.
Selain untuk kecantikan dan kesehatan kulit, ikan ini juga dapat memberikan efek positif lainnya untuk tubuh. Saat ikan-ikan ini menyedot kaki kita, kaki akan merasakan setruman-setruman kecil yang dihasilkan dari kerumunan ikan yang dapat merangsang titik-titik akupuntur pada telapak kaki dan membuat sirkulasi darah menjadi lancar. Agar mendapatkan hasil yang maksimal, terapi hendaknya dilakukan secara teratur 2 sampai 3 kali seminggu selama 3 bulan.
Melihat ikan yang berlarian dan sigap menyedot kulit mati dapat membuat perasaan rileks. Belum lagi rasa geli akibat isapan mulut ikan-ikan kecil ini. Anda pasti dapat merasakan perasaan nyaman yang akan membuat Anda santai.
Jadi, selain kesehatan fisik, kesehatan dan ketenangan pikiran juga dapat Anda nikmati. Pada tempat spa tertentu, Anda tidak hanya dapat memasukkan kaki saja untuk diserbu ikan Garra rufa, tetapi Anda dapat mencoba untuk berendam seluruh badan sambil merasakan sedotan lembut bayi ikan Garra rufa ini. Berniat mencobanya?
Langganan:
Komentar (Atom)
