Senin, 26 Oktober 2015

CARA BUDIDAYA KEONG SAWAH/TUTUT



Cara Budidaya Keong Sawah



Keong sawah yang dulu hanya dianggap hama merugikan sekarang telah menjadi hewan yang peminatnya banyak sekali. Bagaimana tidak, keong sawah ternyata bisa menjadi olahan yang cukup lezat dan lezatnya keong sawah telah diketahui oleh khalayak ramai. Oleh Karena itu, jika Anda berniat untuk memulai sebuah bisnis, budidaya keong sawah bisa menjadi sesuatu yang prospektif saat ini. Jika Anda hendak melakukan budidaya keong sawah, tentu saja, Anda wajib tahu berbagai cara budidaya keong sawah. Berikut adalah berbagai cara ternak keong sawah yang dapat Anda ikuti jika Anda inging membudidayakan keong sawah.
Keong Sawah
Gambar Keong Sawah

Pembuatan Kolam Tempat Budidaya Keong Sawah

Hal pertama yang wajib Anda lakukan dalam membudidayakan keong sawah yaitu membuat kolam tempat pembudidayaan keong sawah tersebut. Untuk pembuatan kolam, ada beberapa pilihan yang bisa Anda ambil yaitu membuat kolam tanah, kolam terpal, atau kolam semen. Mengenai keefektifan ketiga jenis kolam tersebut, kolam tanah tentu merupakan jenis kolam terbaik mengingat kolam tersebut memiliki lingkingan hidup yang paling mirip dengan lingkungan hidup keong sawah. Untuk ukuran kolam, buatlah paling tidak sebuah kolam dengan ukuran 1 x1 x1 m dengan suhu 20-30ÂșC.

Pemilihan Indukan Keong Sawah

Selain cara pembuatan kolam tempat keong sawah dibudidayakan, cara beternak keong sawah lainnya yang wajib Anda kuasai yaitu cara pemilihan indukan yang akan digunakan dalam pembudidayaan keong sawah. Anda bisa mendapatkan indukan keong sawah dari berbagai tempat diantaranya persawahan, sungai, maupun di tempat irigasi. Untuk keong sawah yang bisa Anda gunakan sebagai indukan, pilihlah keong yang sudah berukuran besar dan cangkangnya tebal yang menandakan bahwa keong sawah tersebut sudah dewasa dan bisa digunakan sebagai indukan.

Pemeliharaan dan Pemberian Makan Keong Sawah

Disamping teknik pemilihan indukan keong untuk digunakan dalam pembudidayaan keong sawah, teknik budidaya keong sawah lain yang harus Anda ketahui yaitu teknik pemeliharaan keong. Dalam memelihara keong sawah, Anda tidak boleh memasukkan garam ke kolam tempat keong tersebut hidup. Hal ini karena keong sawah akan mati jika terkena garam. Selain itu, Anda juga tidak boleh memenuhi air kolam mengingat keong yang juga dikenal luas dengan sebutan keong tutut ini akan menempatkan telurnya di tempat yang tidak terdapat air.
Tancapkan juga beberapa batang kayu di atas kolam dengan tujuan keong sawah Anda akan menempatkan telur-telurnya pada batang kayu tersebut. Sementara itu, untuk pemberian makan, Anda bisa memberi makan keong sawah Anda dengan berbagai jenis daun meskipun Anda juga dapat memberi keong sawah Anda pelet ikan untuk selingan. Jenis-jenis daun yang bisa Anda gunakan dalam pemberian makan keong sawah diantaranya daun talas, daun singkong, daun papaya, dan masih banyak lagi.

Pemanenan Keong Tutut atau Keong Sawah

Selain teknik-teknik diatas, teknik beternak lain yang tak kalah penting dalam pembudidayaan keong sawah yaitu teknik pemanenan keong. Untuk memanen keong sawah, ada dua pilihan yaitu memanennya secara keseluruhan dan memanennya secara parsial. Memanen secara keseluruhan berarti memanen semua keong sawah yang Anda budidayakan sementara memanen secara parsial berarti memanen keong yang sudah besar dan cangkangnya sudah tebal saja. Singkat kata, ada banyak hal yang dapat Anda lakukan dalam melakukan budidaya keong tutut atau keong sawah dan tentu saja, dalam membudidayakan keong sawah, Anda harus selalu menganti air dalam kolam secara berkala supaya kolam tersebut bersih dan keong sawah Anda sehat.

Kamis, 22 Oktober 2015

LUKISAN PRABU SILIHWANGI

Image result for sejarah prabu siliwangi...Image result for sejarah prabu siliwangi...Image result for sejarah prabu siliwangi...Image result for sejarah prabu siliwangi...

BEKASI KOTA PATRIOT TONGGAK SEJARAH DAN WILAYAH PENTING KERAJAAN PAJAJARAN

PERJALANAN SANG PRABU SILIHWANGI 
Kisah Prabu Siliwangi sangat dikenal dalam sejarah Sunda sebagai Raja Pajajaran. Salah satu naskah kuno yang menjelaskan tentang perjalanan Prabu Siliwangi adalah kitab Suwasit.Kitab yg di tulis dengan menggunakan bhs.sunda kuno di dalam selembar kulit Macan putih yg di temukan di desa pajajar Rajagaluh jawa barat. Prabu Siliwangi seorang raja besar pilih tanding sakti Mandraguna,Arif & Bijaksana Memerintah Rakyatnya di kerajaan Pakuan Pajajaran Putra Prabu Anggalarang atau Prabu dewa Niskala Raja dari kerajaan Gajah dari dinasti Galuh yang berkuasa di Surawisesa atau Kraton Galuh di Ciamis Jawa barat. Pada masa mudanya dikenal dengan nama Raden Pamanah Rasa. Sejak kecil beliau Diasuh oleh Ki Gedeng Sindangkasih, seorang juru pelabuhan Muara Jati di kerajaan singapura (seblum bernama kota cirebon). Setelah Raden pemanah Rasa Dewasa & sudah cukup ilmu yg di ajarkan oleh ki gedeng sindangkasih. Beliau kembali ke kerajaan Gajah untuk Mengabdi kepada ayahandanya prabu Angga Larang/dewa Niskala. Setelah itu Raden pemanah Rasa Menikahi Putri ki gedeng sindangkasih. Yg bernama nyi Ambet kasih. Ketika itu Kerajaan gajah dalam pemerintahan Prabu dewa Niskala atau prabu Angga Larang sedang dlm masa keemasanya. Wilayahny terbentang Luas dari Sungai Citarum Di karawang yg berbatasan Langsung dengan kerajaan Sunda,smpai sungai ci-pamali berbatasan Dengan Majapahit. Silsilah Prabu Siliwangi sebagai keturunan ke-12 dari Maharaja Adimulia. 
1.MAHA RAJA ADI MULYA / RATU GALUH AJAR SUKARESI Menikahi Dewi Naganingrum /     Nyai Ujung Sekarjingga berputra : 
2.PRABU CIUNG WANARA berputra : 
3.SRI RATU PURBA SARI berputra : 
4.PRABU LINGGA HIANG berputra : 
5.PRABU LINGGA WESI berputra : 
6.PRABU SUSUK TUNGGAL berputra : 
7.PRABU BANYAK LARANG berputra : 
8.PRABU BANYAK WANGI berputra :
9.PRABU MUNDING KAWATI / PRABU LINGGA BUANA berputra : 
10.PRABU WASTU KENCANA ( PRABU NISKALA WASTU KANCANA )berputra :
11.PRABU ANGGALARANG ( PRABU DEWATA NISKALA ) menikahi Dewi Siti Samboja /            Dewi Rengganis berputra : 
12.SRI BADUGA MAHA RAJA PRABU SILIHWANGI/PRABU PEMANAH RASA (1459-                1521M) 
Pada suatu Hari Prabu Angga Larang Geram karna Banyak dari penduduknya di muara jati (sekarang=Cirebon) yg beragama Hindu Pindah keagama Baru yg Dibawa oleh Alim Ulama dari Campa kamboja bernama Syekh Quro Agama tersebut Bernama islam. Maka di Utuslah Beberapa orang kepercayaannya Untuk Mengusir Ulama itu dari tanah jawa. Konon kabarnya,Ulama besar yang bergelar Syekh Qurotul’ain dengan nama aslinya Syekh Mursyahadatillah atau Syekh Hasanudin.beliau adalah seorang yang arif dan bijaksana dan termasuk seorang ulam yang hafidz Al-qur’an serta ahli Qiro’at yang sangat merdu suaranya. Syekh Quro adalah putra ulama besar Mekkah,penyebar agama Islam di negeri Campa (Kamboja) yang bernama Syekh Yusuf Siddik yang masih keturunan dari Sayidina Hussen Bin Sayidina Ali RA.dan Siti Fatimah putri Rosulullah SAW. Sebelum Beliau datang ke tanah jawa sekitar tahun 1409 Masehi,Syekh Quro pertama kali menyebarkan Agama islam di negeri Campa Kamboja ,lalu ke daerah Malaka dan dilanjutkan ke daerah Martasinga Pasambangan dan Japura akhirnya sampailah ke Pelabuhan Muara Jati yg saat itu syahbandar di gantikan oleh ki gedeng Tapa karna Ki gedeng sindangkasih telah Wafat. Disini beliau disambut dengan baik oleh Ki Gedeng Tapa atau Ki Gedeng Jumajan Jati,yang masih keturunan Prabu Wastu Kencana Ayah dari Prabu Anggalarang dan, oleh masyarakat sekitar. mereka sangat tertarik dengan ajaran yang disampaikan oleh Syekh Quro yang di sebut ajaran agama Islam. Sampailah para utusan itu di depan pondokan syech Quro,Utusan itu Menyampaikan Perintah dari Rajanya Agar penyebaran agama Islam di muara jati Harus segera dihentikan. Perintah dari Raja Gajah tersebut dipatuhi oleh Syeh Quro.namun,kepada utusan prabu Anggalarang yang mendatangi Syekh Quro,beliau mengingatkan,meskipun ajaran agama Islam dihentikan penyebarannya. tapi kelak, dari keturunan Prabu Anggalarang akan ada yang menjadi seorang Wali Allah. Beberapa saat kemudian beliau pamit pada Ki Gedeng Tapa untuk kembali ke negeri Campa,di waktu itu pula Ki Gedeng Tapa menitipkan putrinya yang bernama Nyi Mas Subang Larang,untuk ikut dan berguru pada Syekh Quro. BerangkatLah Syeh Quro bersama Nyi subang Larang dngn menggunakan Perahu kembali ke negri campa kamboja. Sebagai Seorang putra Raja Beliau tidak Betah tinggal diam di istana,Raden Pamanah Rasa kerap mengembara Menyamar menjadi Rakyat Jelata dari daerah satu ke daerah Lainya,Menolong yg Lemah & Memberantas Keangkaramurkaan. Gemar bertapa & mencari kesaktian, Di dalam salah satu pengembarannya, Ketika beliau hendak beristirhat di Curug atau air terjun,curug itu bernama Curug Sawer yg terletak di daerah Majalengka,Raden pemanah Rasa dihadang oleh siluman Harimau Putih Pertempuran pun tak terelakkan. Raden Pamanah Rasa dan Siluman Harimau Putih yang diketahui memiliki kesaktian tinggi itu pun bertarung sengit hingga Setengah Hari,Namun kesaktian Prabu Pamanah Rasa berhasil memenangi pertarungan dan membuat siluman Harimau Putih tunduk kepadanya. Harimau Putih itu memberi sebuah pusaka yg terbuat dari kulit Macan, Dengan pusaka itu beliau bisa Terbang Laksana burung,Menghilang tak terlihat oleh mata (ajian Halimun),berjalan secepat angin (Ajian saepi Angin)& Bisa Mendatangkan Bala tentara Jin. Harimau itupun memutuskan untuk mengabdi kepada Raden Pamanah Rasa sebagai pendamping beliau. Dengan tunduknya Raja siluman Harimau Putih,maka meluaslah wilayah kerajaan Gajah. Siluman Harimau Putih beserta pasukannya selanjutnya dengan setia mendampingi dan membantu Raden Pamanah Rasa. Salah satunya kala kerajaan Gajah menundukkan kerajaan2 yg Memeranginya.Siluman Harimau Putih juga turut membantu Raden Pamanah rasa saat kerajaan Pajajaran diserang oleh pasukan Mongol pada Masa kekaisaran Kubilai khan. Karna Jasa-jasa Anaknya yg begitu besar dalam Kejayaan kerajaan gajah,maka diangkatlah Raden pemanah Rasa sebagai Raja kedua di kerajaan tersebut. Prabu Pamanah Rasa pun selanjutnya mengubah nama kerajannya menjadi kerajaan Pajajaran. Yang berarti menjajarkan atau menggabungkan kerajaan Gajah dengan kerajaan Harimau Putih. Seiring meluasnya wilayah kerajaan Gajah,Prabu Pamanah Rasa kemudian membuat senjata sakti yang pilih tanding. Beliau menyuruh Eyang Jaya Perkasa untuk membuat senjata pisau berbentuk harimau sebanyak tiga Buah,Dalam Tiga Warna, yaitu Kuning, Hitam, Putih. Senjata pertama yang berwarna hitam,dibuat dari batu yang jatuh dari langit yang sering disebut meteor, yang dibakar dengan kesaktian Prabu Pamanah Rasa Dalam membentuk besi yang diperuntukkan untuk membuat senjata tersebut. Senjata Kedua dibuat dari air,api yang dingin,yang warnanya kuning dibekukan menjadi besi kuning, Senjata ketiga dari besi biasa yang direndam dalam air hujan menjadi putih berkilau. Senjata itu selesai dalam waktu tujuh hari. semalam penuh Pengeran Pamanah Rasa memikirkan nama untuk senjata sakti tersebut,tepat ayam berkokok ditemukan nama untuk ketiga barang tersebut,Pisau pusaka itu di beri nama KUJANG (Senjata Berbentuk Harimau), dikarenakan Pusaka itu ada tiga,Maka kujang tersebut di beri nama KUJANG TIGA SERANGKAI,yang Artinya BEDA-BEDA TAPI TETAP SAMA. Senjata itu berbentuk melengkung dengan ukiran harimau di gagangnya. Ukiran harimau di gagang Kujang konon sebagai pengingat terhadap pendamping setianya, siluman Harimau Putih. Dan pusaka itu yg kini menjadi lambang dari propinsi Jawa Barat, Beberapa Tahun kemudian Syekh Quro datang kembali ke negeri Pajajaran beserta Rombongan para santrinya,dengan menggunakan Perahu dagang dan serta didalam rombongan adalah,Nyi Mas Subang Larang,Syekh Abdul Rahman.Syekh Maulana Madzkur dan Syekh Abdilah Dargom. Setelah Rombongan Syekh Quro melewati Laut Jawa dan Sunda Kelapa dan masuk Kali Citarum,yang waktu itu di Kali tersebut ramai dipakai Keluar masuk para pedagang ke Pajajaran,akhirnya rombongan beliau singgah di Pelabuhan Karawang. Menurut buku sejarah masa silam Jawa Barat yang terbitan tahun 1983 disebut,Pura Dalem. mereka masuk Karawang sekitar 1416 M.yang mungkin dimaksud Tangjung Pura,dimana kegiatan Pemerintaahan dibawah kewenangan Jabatan Dalem..Karena rombongan tersebut,sangat menjunjung tinggi peraturan kota Pelabuhan,sehingga aparat setempat sangat menghormati dan,memberikan izin untuk mendirikan Mushola ( 1418 Masehi) sebagai sarana Ibadah sekaligus tempat tinggal mereka.Setelah beberapa waktu berada di pelabuhan Karawang,Syekh Quro menyampaikan Dakwah-dakwahnya di Mushola yang dibangunya (sekarang Mesjid Agung Karawang ).dari urainnya mudah dipahami dan mudah diamalkan,ia beserta santrinya juga memberikan contoh pengajian Al-Qur’an menjadi daya tarik tersendiri di sekitar karawang. Ulama besar ini sering mengumandangkan suara Qorinya yang merdu bersama murid-muridnya,Nyi Subang Larang,Syekh Abdul Rohman,Syekh Maulana Madzkur dan santri lainnya seperti ,Syekh Abdiulah Dargom alias Darugem alias Bentong bin Jabir Modafah alias Ayekh Maghribi keturunan dari sahabat nabi (sayidina Usman bin Affan). Berita kedatangan kembali Syekh Quro,rupanya terdengar oleh Prabu Anggalarang yang pernah melarang penyebaran agama islam di muara jati,sehingga Prabu Anggalarang mengirim utusannya.untuk menutup pesantren Syekh Quro dengan paksa. utusan yang datang itu adalah Putra Mahkota yang bernama Raden Pamanah Rasa. sesampainya di depan pesantren Raden pemanah Rasa tertambat hatinya oleh alunan suara merdu yang dikumandangkan oleh Nyi Subang Larang,”Saat menlantunkan Ayat-ayat Al-Qur’an,” Prabu Pamanah Rasa akhirnya mengurungkan niatnya untuk menutup pesantren tersebut. Atas kehendak yang Maha Kuasa Prabu Pamanah Rasa,menaruh perhatian khususnya pada Nyi Subang Larang yang cantik dan merdu suaranya. Beliau pun menyampaikan keinginanya untuk mempersunting Nyi Subang Larang sebagai permaisurinya. Pinangan tersebut diterima tapi,dengan syarat mas kawinnya yaitu Lintang Kerti Jejer Seratus,yang di maksud itu adalah simbol dari Tasbeh yang merupakan alat untuk berdzikir. Selain itu,Nyi Subang Larang mengajukan syarat lain agar kelak anak-anak yang lahir dari mereka harus menjadi Raja. seterusnya menurut cerita,semua permohonan Nyi Subang Larang disanggupi oleh Raden Pamanah Rasa.Atas petunjuk Syekh Quro,Prabu Pamanah Rasa segera pergi ke Mekkah. Di tanah suci Mekkah,Prabu Pamanah Rasa disambut oleh seorang kakek penyamaran dari Syekh Maulana Jafar Sidik. Prabu Pamanah Rasa merasa keget,ketika namanya di ketahui oleh seorang kakek.Dan Kekek itu, bersedia membantu untuk mencarikan Lintang Kerti Jejer Seratus dengan syarat harus mengucapkan Dua Kalimah Syahadat.Sang Prabu Pamanah Rasa denga tulus dan ikhlas mengucapkan,Dua Kalimah Syahadat.yang makna pengakuan pada Allah SWT,sabagai satu-satunya Tuhan yang harus disembah dan, Muhammad adalah utusannya. Semenjak itulah,Prabu Pamanah Rasa Atau prabu silihwangi masuk agama Islam dan menerima Lintang Kerti Jejer Seratus atau Tasbeh,mulai dari itu,Prabu Pamanah Rasa diberi ajaran tentang agama islam yang sebenarnya. Setelah itu Prabu Pamanah Rasa segera kembali ke Kraton Pajajaran,Untuk melangsungkan pernikahannya denga Nyi Subang Larang waktu terus berjalan maka pada tahun 1422 M,pernikahan di langsungkan di Pesantren Syekh Quro dan dipimpin y oleh Syekh Quro. Hasil dari pernikahan tersebut mereka dikarunai 3anak yaitu: 1.Raden Walangsungsang/kian santang( 1423 Masehi) 2.Nyi Mas Rara Santang ( 1426 Masehi) 3.Raja Sangara ( 1428 Masehi). Nama Silihwangi pun & dikenal sebagai raja yang mencintai rakyatnya. Dia meminta agar pajak hasil bumi tidak memberatkan rakyat. Dia juga mengatur pemerintahan dengan cukup baik sehingga Pajajaran disegani. Kemudian Prabu Silihwangi Menikahi putri Prabu Susuktunggal Raja dari kerajaan Sunda,yg bernama KENTRING MANIK MAYANG SUNDA Jadilah antara Raja Sunda dan Raja Galuh yang seayah ini menjadi besan.Pada tahun 1482 , Prabu Dewa Niskala menyerahkan Tahta Kerajaan Galuh kepada puteranya Raden pemanah Rasa atau Jaya Dewata. Demikian pula dengan Prabu Susuktunggal yang menyerahkan Tahta Kerajaan Sunda kepada menantunya ini(Jayadewata). Dengan peristiwa yang terjadi pada tahun 1482 itu, kerajaan warisan Wastu Kencana berada kembali dalam satu tangan. PRABU SILIHWANGI. Beliau memutuskan untuk berkedudukan di Pakuan sebagai "Susuhunan" karena ia telah lama tinggal di sina menjalankan pemerintahan sehari-hari mewakili mertuanya. Sekali lagi Pakuan menjadi pusat pemerintahan. Zaman Pajajaran diawali oleh pemerintahan Prabu Jayadewata yang bergelar Sri Baduga Maharaja prabu silihwangi yang memerintah selama 39 tahun (1482 - 1521). Pada masa inilah Pakuan Pajajaran mencapai puncak perkembanganya. Gemah Ripah Loh Jinawi,Daerah kekuasaanya sepertiga pulau Jawa yg terbentang Luas dari ujungkulon sampai ke Dataran tinggi Dieng jawa tengah.wilayah ini kala itu di sebut tataran Sunda. Singkat Cerita Setelah Prabu Silihwangi di tinggal nyi Subang Larang ke Rahmat Allah,istri yg paling di cintainya. Beliau mulai Melupakan islam yg pernah di ikrarkanya,Beliau lebih Memilih Kembali Memeluk Agama yg di Anut leluhurnya(sunda wiwitan). Sedangkan Raden Walangsungsang yang juga putra mahkota Kerajaan Pajajaran berkeinginan untuk berguru agama Nabi Muhammad saw. Lalu,ia mengutarakan maksudnya kepada ayahandanya, Prabu Siliwngi. Namun, Prabu Siliwangi melarang bahkan mengusir Walangsungsang dari istana. Pangeran walangsungsang lahir dikeraton Pajajaran bertepatan dengan Tahun 1423 Masehi. Pada masa mudanya ia memperoleh pendidikan yang berlatar belakang kebangsawanan dan politik, kurang lebih 17 tahun lamanya ia hidup di Istana Pajajaran. Pada suatu malam, Walangsungsang melarikan diri meninggalkan istana Pakuan Pajajaran. Ia menuruti panggilan mimpi untuk berguru agama nabi kepada Syekh Nurjati, seorang pertapa asal Mekah di bukit Amparan Jati cirebon. Dalam perjalanan mencari Syekh Nurjati,Walangsungsang bertemu dengan seorang pendeta Budha bernama Resi Danuwarsi. Kemudian Beliau pergi menuju Gunung Dihyang di Padepokan Resi Danuwarsih, masuk wilayah Parahiyangan Bang Wetan. Resi Danuwarsih adalah seorang Pendeta Budha yang menjadi penasehat Keraton Galuh, ketika Ibukota Kerajaan masih di Karang Kamulyan Ciamis. Sulit dibayangkan bagaimana keteguhan Sang Pangeran yang muslim, berguru kepada seorang Pendeta yang secara lahiriah masih beragama Budha. tp Mungkin saja secara hakiki sang Danuwarsih sudah Islam meskipun tingkah lakunya masih Hindu-Budha. Tetapi yang Jelas kedatangan Putra Sulung Prabu Siliwangi di Padepokan Gunung Dihyang disambut suka cita oleh pendeta Danuwarsih. Dan untuk menyempurnakan kegembiraan tersebut, sang Guru menikahkan putri satu-satunya yang bernama Endang Geulis. Darinyalah lahir seorang putri yang bernama Nyai Mas Pakungwati yang kelak kemudian hari menjadi permaisuri Kanjeng Sunan Gunung jati. Begitupun Rara santang adik Walangsungsang yang juga berkeinginan untuk mempelajari agama nabi,Rarasantang amat bersedih hati ditinggalkan pergi oleh kakaknya. Ia terus menerus menangis. Jerit hatinya tak tertahankan lagi hingga akhirnya ia pun pergi meninggalkan istana Pakuan Pajajaran. Lalu, Prabu Siliwangi mengutus Patih Arga untuk mencari sang putri. Ia tidak diperkenankan pulang jika tidak berhasil menemukan Rarasantang. Namun, usaha Patih Arga sia-sia belaka karenanya ia tidak berani pulang. Akhirnya, ia mengambil keputusan mengabdi di negeri Tajimalela. Sementara itu, perjalanan Rarasantang telah sampai ke Gunung Tangkuban-perahu dan bertemu dengan Nyai Ajar Sekati. Rarasantang diberi pakaian sakti oleh Nyai Sekati sehingga ia bisa berjalan dengan cepat. Nyai Sekati memberi petunjuk agar Rarasantang pergi ke gunung Cilawung menemui seorang pertapa. Di gunung Cilawung, oleh ajar Cilawung nama Rarasantang diganti menjadi Nyai Eling dan diramal akan melahirkan seorang anak yang akan menaklukkan seluruh isi bumi dan langit,dikasihi Tuhan, dan menjabat sebagai pimpinan para wali. Selanjutnya, Nyai Eling diberi petunjuk agar meneruskan perjalanan ke Gunung Merapi. Cerita beralih dengan menceritakan Resi Danuwarsi yang juga dikenal dengan nama Ajar Sasmita,yang tengah mengajar Walangsungsang. Sang Danuwarsi mengganti nama Walangsungsang menjadi Samadullah dan menghadiahi sebuah cincin bernama Ampal yang berkesaktian dapat dimuati segala macam benda. Ketika keduanya tengah asyik berbincang-bincang tiba-tiba datanglah Rarasantang yang serta merta memeluk kakaknya. Di Gunung Merapi, Walangsungsang di nikahkan dengan indang geulis putri dari Resi Danuwarsi. Sesuai dengan petunjuk Resi Danuwarsi, Samadullah beserta istri dan adiknya meninggalkan Gunung Merapi menuju bukit Ciangkup. Indang Geulis dan Rarasantang “dimasukkan” ke dalam cincin Ampal. Di bukit Ciangkup tempat bertapa seorang pendeta Budha bernama Sanghyang Naga,Samadullah diberi pusaka berupa sebilah golok bernama golok Cabang yang dapat berbicara seperti manusia dan bisa terbang. Setelah mengganti nama Samadullah,Sanghyang Naga memberi petunjuk agar Samadullah melanjutkan perjalanan ke Gunung Kumbang menenemui seorang pertapa yang bergelar Nagagini yang sudah teramat tua. Nagagini adalah seorang pendeta yang mendapat tugas dewata untuk menjaga beberapa jenis pusaka: kopiah waring,badong bathok (hiasan dada dari tempurung), serta umbul-umbul yang harus diserahkan kepada putera Pajajaran. Atas petunjuk Nagagini,Walangsungsang kemudian berangkat ke Gunung Cangak. Nagagini memberi nama baru bagi Walangsungsang, yakni Karmadullah. Ketika tiba di Gunung Cangak, Walangsungsang melihat pohon kiara yang setiap cabangnya dihinggapi burung bangau. Walangsungsang bermaksud menangkap salah seekor burung bangau itu, tetapi khawatir semuanya akan terbang jauh. Ia teringat akan pusakanya kopiah waring yang khasiatnya menyebabkan ia tidak akan terlihat oleh siapapun termasuk jin dan setan. Kopiah Waring segera ia pakai, lalu ia mengambil sebatang bambu untuk membuat bubu yang dipasang disalah satu cabang kiara. Dalam bubu itu diletakkan seekor ikan. Burung-burung bangau tertarik melihat ikan dalam bubu hingga membuat suara berisik dan menarik perhatian raja bangau (Sanghyang Bango) yang segera mendekati “rakyatnya”. Raja Bango berusaha mengambil ikan dalam bubu, namun ia terjebak masuk ke dalam perangkap dan tak dapat keluar, dan akhirnya ditangkap oleh Walangsungsang. Raja Bango mengajukan permohonan agar tidak disembelih, dan ia menyatakan takluk kepada Walangsunsang serta mengundangnya untuk singgah di istananya guna diberi pusaka. Di dalam istana, Raja Bango berubah menjadi seorang pemuda tampan dan menyerahkan benda pusaka berupa: periuk besi, piring, serta bareng. Periuk besi dapat dimintai nasi beserta lauk pauknya dalam jumlah yang tidak terbatas, piring dapat mengeluarkan nasi kebuli, sedangkan bareng dapat mengeluarkan 100.000 bala tentara. Sanghyang Bango memberi nama Raden Kuncung kepada Walangsungsang yang kemudian melanjutkan perjalanan ke Gunung Jati. Setibanya di gunung Jati, Walangsungsang menghadap Syekh Nurjati yang juga bernama Syekh Datuk Kafi yang berasal dari Mekah, dan masih keturunan Nabi Muhammad dari Jenal Ngabidin. Lalu, Walangsungsang berguru kepada Syekh Nurjati dan menjadi seorang muslim dengan mengucapkan syahadat. Setelah ilmunya dianggap cukup, Syekh Datuk Kafi menyuruh Walangsungsang untuk mendirikan perkampungan di tepi pantai. Walangsungsang memenuhi perintah gurunya. Ia pun berangkat menuju Kebon Pesisir, berikut istri dan adiknya, yang di “masukkan” ke dalam cincin Ampal. Perkampungan baru yang akan dibukanya kelak dikenal dengan nama Kebon Pesisir, sedangkan pesantrennya diberi nama Panjunan. Dalam pada itu, Syekh Datuk Kafi memberi gelar kepada Walngsungsang dengan sebutan Ki Cakrabumi. Selanjutnya,Cakrabumi membuka hutan dengan Golok Cabang. Dengan kesaktian Golok Cabang, hutan lebat telah dibabat dalam waktu singkat. Ketika goloknya bekerja membabat hutan, pohon-pohonan roboh dengan mudah, lalu golok mengeluarkan api dan membakar kayu-kayu hutan sehingga dalam waktu singkat pekerjaan sudah selesai; sementara Walangsungsang tidur mendengkur. Hutan yang dirambah cukup luas sehingga pendatang-pendatang baru tidak perlu bersusah payah membuka hutan. Dalam waktu singkat, pedukuhan baru itu sudah banyak penduduknya,dan mereka menamakan Cakrabuwana dengan sebutan Kuwu Sangkan. Kuwu Sangkan sendiri tidak bertani karena pekerjaannya hanyalah menjala ikan dan membuat terasi. Jemuran terasi yang dibuatnya membentang ke selatan hingga Gunung Cangak di tanah Girang. Suatu ketika, ia pulang ke rumahnya yang terletak di Kanoman, ternyata gurunya, Syekh Datuk Kahfi telah berada disana. Ketika Syekh Datuk Kahfi menemui Walangsungsang di Kebon Pesisir,ia menganjurkan supaya Walangsungsang dan adiknya menunaikan ibadah haji ke Mekah. di mekkah kemudian mereka berkenalan dengan patih dari mesir yg sedang mencari permaisuri untuk rajanya,dari perkenalan itu akhirnya raja mesir menikah dengan nyi Rara santang dengan maskawin sorban nabi muhammad saw,Rara santang tinggal di Mesir bersama Suaminya & kian santang Pulang kembali ke pulau Jawa,ketika Rarasantang sedang Hamil tersiarlah kabar Bahwa Raja Mesir Wafat saat berkunjung ke negri Rum di kerajaan saudaranya, Kesedihan Rarasantang yang sedang hamil tua itu tak terbayangkan lagi mendengar kematian suaminya,apalagi masa kehamilannya telah mencapai usia 12 bulan. Rara santang di karuniahi anak kembar yaitu syarif hidayatulloh & syarif Arifin. Ketika Mereka berdua dewasa,tahta kerajaan mesir di turunkan ke pada syarif hidayatullah tapi Beliau Menolaknya dan Memberikanya pada Adik kembarnya syarif Arifin,syarif hidayatullah lebih Memilih Berdakwah ke pulau Jawa di tanah Leluhurnya,Setelah sampai Di muara Jati Beliau Bertemu dengan Walangsungsang,uwaknya yg telah berganti Nama pangeran Cakrabuana,kemudian di Nikahkanlah Syarif Hidayatullah dengan putri Uwaknya yg bernama Nyi mas Pakung Wati. Kemudian Syarif Hidayatullah di Angkat menjadi Waliyulloh dengan sebutan Sunan Gunung Jati dengan gelar Tumenggung Syarif Hidayatullah bin Maulana Sultan Muhammad Syarif Abdullah dan bergelar pula sebagai Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Jati Purba Panetep Panatagama Awlya Allah Kutubid Jaman Khalifatur Rasulullah. Pada tahun 1479 M, kedudukan Pangeran Cakrabuana sebagai Raja di keraton Pakung wati kemudian digantikan Sunan Gunung Jati,Beliau Lalu Mendirikan Kesultanan Cirebon Sebagai Pusat Penyebaraan Agama islam di tataran Sunda,Pertumbuhan dan perkembangan yang pesat pada Kesultanan Cirebon dimulai oleh Syarif Hidayatullah dengan membentuk Dewan Dakwah Sembilan Wali atau Wali Songo sebagai tokoh Ulama penyebar Agama islam di Jawa. Dan kemudian Syarif Hidayatullah diyakini sebagai pendiri dinasti raja-raja Kesultanan Cirebon dan Kesultanan Banten serta penyebar agama Islam di Jawa Barat seperti Majalengka , Kuningan , Kawali (Ciamis),Sunda Kelapa , dan Banten. Di Kisahkan,setelah kerajaan2 kecil Bawahan pakuan Pajajaran berhasil di taklukan oleh kesultanan Demak & cirebon,dan rakyat pajajaran hampir seluruhnya masuk islam & para pejabat tinggi pajajaran kebanyakan lari kedaerah banten yaitu daerah badui kabupaten rangkas dan ada yang kegarut serta kecirebon. Rakyat & pembesar kerajaan pajajaran yg tidak mau masuk islam & masih Setia mengikuti ajaran terdahulunya yg Masih Bertahan di kerajaan Padjajaran,keadaan itu Membuat Prabu Siliwangi bersedih hati,ketenangan,kedamaian dan ketentraman batinnya yang slalu bergejolak tentang iman,karna prabu siliwangi bersih keras mengikuti ajaran terdahulunya dan prabu silihwangi tidak mau mengikuti ajaran istrinya meski secara hakiki prabusiliwangi telah masuk islam melalui istri nya yang kedua yaitu nyi subang larang anak ki gedeng tapa. diantara istri dan putra putrinya prabu silihwangi merasa berdosa tidak meneruskan ajaran islam yang pernah diikrarkannya pada sumpah perkawinannya dengan nyi subang larang dengan maskawin berupa tasbih dipondok pesantren syeh Quro dikarawang . Prabusiliwangi merasa malu dengan istri dan putra putrinya serta cucunya yang menjadi waliulloh sunan gunung jati, anak dari Rara santang apa lagi pada waktu itu prabu silihwangi terkalahkan pasukan islam dan rakyat pajajaran hampir seluruhnya masuk islam. Pada Suatu Hari Berkat kesaktiannya, Prabu Siliwangi mengetahui kedatangan cucunya,,Sunan gunung Jati. yg bermaksud ingin Mengajaknya kembali Memeluk islam. Dalam hatinya, ia merasa malu kalau sampai tunduk kepada cucunya. Dengan kesaktian pusakanya, sebilah Ecis, ia berjalan ke tengah alun-alun pajajaran dan membaca mantra aji sikir, lalu pusaka Ecis ditancapkan ke tanah. Seketika itu,negara dan rakyat Pajajaran lenyap dan Sirna ke Alam ghaib,Pusaka Ecis Itupun berubah pula menjadi rumput ligundi hitam. Syarif Hidayatullah atau sunan gunung jati yang datang kaget karena kerajaan pajajaran beserta Rakyatnya telah hilang berpindah ke Alam Ghaib dan berubah menjadi hutan belantara, Sebelum pergi beliau berucap"Rakyat pajajaran yg bersembunyi di hutan seperti Harimau" Seketika itu pula Perkataan Waliullah di kabulkan oleh Allah swt. Rakyat pajajaran selamanya akan menjadi Harimau sampai Rumput ligundi itu di Cabut. Kegagalan Sunan gunung Jati dalam Mengislamkan kakeknya,Prabu silihwangi.Membuat Pangeran Walangsungsang Harus Turun tangan Mengislamkan Ayahandanya,Prabu silihwangi. dengan ilmu Saepi Angin Hanya dalam Sekejap Beliau Melesat ke Pajajaran yg telah Berubah Menjadi Hutan Belantara. Berkat Kesaktian Ajian Trawangan walangsungsang Berhasil Menemukan Ayahandanya,Prabu Silihwangi yg Menggunakan Ajian Halimun.Namun usaha kian santang pun sia-sia untuk merubah pendirian Ayahandanya,sang prabu tetap bersikukuh tidak mau memeluk islam.Akhirnya sang prabu beserta pengikutnya merubah wujud mereka menjadi Harimau Sebagai bukti bulatnya tekad sang prabu untuk tetap mengikuti Ajaran Leluhurnya. prabu siliwangi pun memilih Menghilang atau ngahyang di kawasan Hutan Sancang ,saat terdesak oleh kejaran putra Sulungnya pangeran walangsungsang yg Bersikeras Mengajak Ayahandanya Untuk Masuk islam. Kerajaan Pajajaran & prabu silihwangi Menghilang bukan berdasarkan perang melawan anak dan cucunya melainkan hanya semata-mata tidak ingin membanjiri darah dengan anak cucunya apa lagi prabu siliwangi adalah ayah yang bijaksana dan Raja yg penuh wibawa pada rakyatnya. Sekian,apabila ada kesalahan saya mohon maaf,apabila terkandung kebaikan semata-mata karna Allah swt & smga bermanfaat untuk kita semua.. Hikayat ini di tulis Berdasarkan : -kitab suwasit -Babad tanah karawang -Naskah Martasinga Diposkan oleh Adunk Balunk di 21.32

Selasa, 15 September 2015

Bermacam Jenis Barong Bali Setelah sebelumnya sudah membahas tentang Pertunjukkan Tari Barong, kini balitour.net akan membahas mengenai jenis-jenis barong yang ada di Bali. Selain Barong Ket yang sering dipertunjukkan untuk pariwisata, terdapat juga jenis-jenis barong lain seperti Barong Bangkal, Barong Brutuk, dan lain-lain. Berikut akan dibahas jenis-jenis barong yang ada di Bali. Barong Ket barong ket di baliBarong Ket atau Barong Keket adalah barong yang paling banyak terdapat di Bali dan paling sering dipentaskan. Barong Ket memiliki perpaduan bentuk antara singa, macan,sapi dan naga. Badan barong ini dihiasi dengan kulit dengan ukiran indah dan kaca cermin kecil yang berkilauan ketika tertimpa cahaya. Bulu Barong Ket terbuat dari kombinasi serat daun pandan dan ijuk. Ada pula yang mengganti ijuk dengan bulu burung gagak. Barong Ket ditarikan oleh dua orang penari yang disebut Juru Saluk atau Juru Bapang. Juru Bapang pertama menarikan bagian kepala, sedangkan yang satunya di bagian ekor. Dalam pertunjukkan, Barong Ket ditarikan berhadapan dengan Rangda, yaitu sosok seram yang melambangkan adharma (keburukan). Pertempuran Barong Ket dan Rangda melambangkan pertempuran abadi andara dharma dan adharma (rwa bhineda) di alam semesta. Tari Barong Ket diiringi dengan gamelan Semar Pagulingan. Barong Bangkal barong bangkal di baliBarong Bangkal adalah barong dengan bentuk babi hutan / babi jantan dewasa. Biasanya Barong Bangkal dipentaskan dengan cara ngelelawang atau menari dari rumah ke rumah berkeliling desa pada saat perayaan hari raya Galungan-Kuningan. Barong ini juga merupakan hiburan yang sangat menarik bagi anak-anak karena ketika ngelawang biasanya Barong Bangkal akan mengejar anak-anak yang ikut menyaksikan barong ini. Alih-alih takut, anak-anak ini biasanya akan sangat senang dan malah menggoda Barong Bangkal agar terus mengejar mereka. Barong ini ditarikan oleh dua orang penari dengan iringan gamelan batel/tetamburan. Barong Macan barong macam di baliBarong macan memang berbentuk seekor macan seperti namanya. Barong ini betuknya hampir mirip dengan Barong Ket, tapi dengan kulit loreng-loreng dan wajah/topeng macan. Pementasan Barong Macan juga dilakukan layaknya Barong Bangkal, yaitu ngelawang berkeliling desa. Biasanya, pementasan barong ini juga dilengkapi dengan dramatari semacam Arja (opera tradisional Bali). Barong macan ditarikan oleh dua penari dengan iringan musik gamelan batel. Barong Gajah barong gajah di baliSeperti namanya barong ini tentu saja menyerupai seekor gajah. Barong ini termasuk barong yang langka dan jarang ditemui karena termasuk jenis barong yang keramat. Barong Gajah hanya terdapat di beberapa daerah di Gianyar, Tabanan, Badung dan Bangli. Barong ini ditarikan oleh dua orang penari sebagai kepala dan kaki. Pada saat-saat khusus, barong ini dipentaskan secara ngelewang dari rumah ke rumah berkeliling desa dengan iringan gamelan batel atau tetamburan. Barong Asu barong asu di baliAsu berarti Anjing, jadi Barong Asu merupakan barong dengan bentuk menyerupai anjing. Sama seperti Barong Gajah, Barong Asu juga termasuk jenis barong yang langka. Barong ini hanya terdapat di beberapa desa di daerah Tabanan dan Badung. Biasanya dipentaskan dengan berkeliling desa (ngelelawang) pada hari-hari tertentu dengan iringan gamelan batel atau tetamburan atau beleganjur. Barong Landung barong landung di baliBarong Landung adalah barong yang menyerupai manusia dengan perawakan yang sangat tinggi. Tinggi dari barong ini bahkan sekitar dua kali tinggi badan orang dewasa. Sosok laki-laki dinamakan Jero Gede, sedangkan pasangannya disebut Jero Luh. Konon, barong jenis dibuat untuk mengelabui mahluk-mahluk halus yang menebar bencana. Masyarakat Bali percaya bahwa mahluk-mahluk halus tersebut adalah kaki tangan Ratu Gede Mecaling, penguasa alam gaib di Lautan Selatan Bali yang berstana di Pura Dalem Ped, Nusa Penida. Untuk menangkal makhluk-makhluk tersebut, suatu waktu seorang pendeta menyarankan masyarakat untuk membuat patung yang mirip Ratu Gede Mecaling, yang sosoknya tinggi besar, hitam dan bertaring, lalu mengaraknya keliling desa. Ternyata cara tersebut berhasil. Para mahluk halus ketakutan melihat sosok yang mirip dengan tuan mereka. Hingga kini, di banyak desa, secara berkala masyarakat mengarak Barong Landung untuk menangkal bencana. hotel di bali Barong Kedingkling atau Barong Blasblasan barong blasblasan di baliBarong Kedingkling disebut juga Barong Blasblasan atau Barong Nong-Nong Kling. Tidak seperti barong-barong yang sebelumnya telah dijelaskan, barong ini memang memiliki rupa yang sangat jauh dari jenis barong lainnya. Barong ini lebih menyerupai kostum topeng seperti yang biasanya dijumpai pada pertunjukkan tarian-tarian Bali. Tokoh-tokoh dalam barong Kedingkling persis dengan tokoh-tokoh dalam Wayang Wong. Saat menari, cerita yang dibawakannya pun adalah cuplikan dari cerita Ramayana terutama pada adegan perangnya. Barong Kedingkling banyak terdapat di daerah Gianyar, Bangli dan Klungkung. Barong Brutuk barong brutuk di baliDiantara semua barong yang telah dijelaskan, Barong Brutuk adalah jenis barong yang paling langka. Barong ini hanya terdapat di desa Terunyan – Bangli, sebuah daerah tertutup di seberang Danau Batur yang juga terkenal akan keunikan proses pemakamannya. Barong ini memiliki bentuk yang lebih primitif dibandingkan dengan jenis barong Bali yang lain. Topeng barong ini terbuat dari batok kelapa dan kostumnya terbuat dari keraras atau daun pisang yang sudah kering. Barong ini melambangkan makhluk-makhluk suci pengiring Ida Ratu Pancering Jagat yang berstana di Pura Pancering Jagat, Terunyan. Penarinya pun tak boleh sembarangan. Orang yang boleh menarikan barong ini adalah remaja yang telah disucikan. Barong brutuk ditarikan dengan membawa cambuk yang dimainkan sambil berlari-lari mengelilingi pura. Barong ini diiringi dengan gamelan Beleganjur atau Babonangan.

Minggu, 13 September 2015

CARA BUDIDAYA ITIK ALABIO

Ini kisahku...
Pada waktu masih remaja saya sering bermain di kampung bulak penombo, pd waktu itu Tahun 1987 dikampung bulak masih dipenuhi alang-alang dan rawa, masih banyak babi hutannya, saya sering mancing dan berburu burung bangau.

Saya dan teman2 bersepeda dari Tanjung Priok, tiap hari libur kami senang ke kampung bulak penombo.

Saya tak menyangka sebelumnya ..seiring perjalanan waktu.... di akhir masa tua saya, saya kembali ke kampung Bulak Penombo.


Macam-macam Cara Budidaya Itik Alabio

Macam-macam Cara Budidaya Itik Alabio


Halo sahabat ternak, jumpa lagi dengan ulasan menarik dari tim Usahaternak. Kali ini kami akan membahas bagaimana cara yang benar dalam budidaya itik Alabio petelur. Cara-cara ini dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan dan ketersediaan dana, sarana dari peternak. Sebelumnya kita perlu berkenalan dengan itik Alabio terlebih dahulu agar tidak kaget seperti apa wujud dan ciri-cirinya.

Itik Alabio merupakan itik yang paling teruji tinggal di daerah rawa, benar saja memang pada awalnya itik Alabio dikembangbiakan di daerah Alabio yang terletak di tengah-tengah aliran sungai Nagara, anak sungai Barito yang merupakan salah satu kawasan banjir/ kawasan rawa lebak terluas yang ada di provinsi Kalimantan Selatan. Itik Alabio (Anas Platyrynchos Borneo) atau identik dengan sebutan 'itik rawa' sebetulnya termasuk ke dalam kategori itik petelur yang khusus dibudidayakan. Jenis itik ini ternyata masih saudara dengan itik-itik lokal seperti itik Tegal (Jawa Tengah), itik Mojokerto (Jawa Timur), itik Bali (di Bali), itik Karawang (Jawa Barat), atau itik Pegagan (Sumatra Selatan) dimana jika dilihat sepintas secara fisik tidak jauh beda. Cara budidayanya juga termasuk mudah, jika diklasifikasikan pada cara budidayanya bisa diklasifikasikan menjadi 3 cara budidaya. Yaitu cara beternak tradisional (ekstensif), cara beternak terstruktur (intensif), dan cara beternak tradisional dengan tetap berpakem pada sistem modern. Selanjutnya akan kami ulas satu-persatu cara beternak itik Alabio beserta sistemnya.


Cara budidaya itik Alabio Ekstensif (Tradisional)

Cara beternak itik petelur secara tradisional banyak diaplikasikan oleh kalangan peternak jaman dulu, dimana masih belum banyak mengenal teknologi, fasilitas, dan kecanggihan. Cara ini bisa dikatakan beternak secara ala kadarnya tapi bukan asal-asalan. Biasanya pada cara ekstensif tidak dipedulikan jumlah jantan dan betina, standarisasi kandang, dan nutrisi makanan. Keterlibatan peternak juga jarang, mereka lebih memilih melepas itik peliharaannya di rawa sehingga itik Alabio mereka tumbuh dengan alam, hal ini juga dikarenakan para peternak sekedar memelihara sebagai hobi atau tidak untuk memenuhi permintaan pasar. Sistem Lanting merupakan salah satu wujud beternak secara ekstensif. Sistem ini banyak diaplikasikan di daerah rawa dengan membuat kandang dari bambu dengan keadaan dibangun di atas air dengan daya tampung rata-rata 500-1000 ekor.

macam-macam cara ternak itik alabio petelur mudah dan tepat
Ada berbagai cara mudah beternak itik Alabio

Cara budidaya itik Alabio Intensif (Modern)
Cara pemeliharaan intensif merupakan cara budidaya yang sudah dikatakan “modern” karena berlawanan dengan cara ekstensif dimana teknologi, sarana-prasarana mulai banyak diaplikasikan. Dengan berbagai standarisasi dan nutrisi pakan sudah ditimbang, maka bukan tidak mungkin jika cara budidaya intensif banyak dipakai oleh banyak kalangan terutama untuk meningkatkan tingkat produksi itik Alabio untuk memenuhi permintaan pasar dimana diperlukan itik dengan kualitas dan kuantintas baik yang akan berpengaruh pada harga jual itik Alabio itu sendiri. Tentunya sebelum mengaplikasikan cara ini biaya, tenaga kerja, dan kesiapan haruslah diutamakan agar tidak sampai mengalami kerugian.

Cara budidaya itik Alabio Semi-Intensif (Semi-Modern)

Cara budidaya semi-intensif merupakan gabungan dari cara ekstensif dan intensif, dimana cara tradisional dipadukan dengan cara modern. Sebagai contoh adalah penggunaan bahan dari alam seperti ikan-ikan kecil, siput, keong mas, udang, tanaman air, dan rumput rawa bila diukur secara cermat bisa dikombinasikan untuk menghasilkan pakan ternak murah ber-protein tinggi sehingga produksi telur akan meledak. Biasanya cara ini banyak diaplikasikan pada budidaya itik Alabio petelur untuk diambil telur itiknya yang baik bagi kesehatan dan dijadikan komoditas usaha bisnis telur itik. Cara semi-intensif memang direkomendasikan karena selain ekonomis, juga baik untuk melatih kreatifitas para peternak untuk mengkombinasikan bahan-bahan dari alam.


Demikian informasi singkat dari tim Usahaternak mengenai cara-cara budidaya itik Alabio, semoga bermanfaat. Untuk informasi-informasi lainnya akan segera kami berikan untuk hasil terbaik pada usaha ternak anda.

Minggu, 23 Agustus 2015

DISINI AKAN DIBANGUN TIRTA PENOMBO PENGOBATAN TERAPI IKAN NILEM ASLI NATURAL NUSANTARA

Kamis, 20 Agustus 2015

BEKASI KOTA PAHLAWAN

Kota sebagai A Buffering Zone.

Kota Bekasi dan terletak di daerah pinggiran timur ibu kota, Jakarta. Memiliki posisi sebagai zona penyangga Jakarta di timur, Bekasi menampung orang perkotaan yang bolak-balik ke sana kemari antara Jakarta dan Bekasi. Kondisi ini telah membuat kota diisi dengan sekitar 2,4 juta orang dan menjadi kota terbesar keempat di negara ini.

Kota ini dibagi menjadi 12 kecamatan bernama Bekasi Barat, Bekasi Timur, Selatan Bekasi, Bekasi Utara, Medan Satria, Bantar Gebang, Pondok Gede, Jakasampurna, Jatiasih, Pondok Melati dan Mustika Jaya. Saya sendiri tinggal di bagian timur dari kota ini.

Bekasi adalah seperti melting pot kecil, orang-orang dari berbagai negara datang dan tinggal di kota ini. Berkat "molek Jakarta" yang terus menggoda orang luar untuk datang meskipun untuk pendatang terampil semua mereka menemukan di dalamnya hanya kehidupan keras dan kesengsaraan.

Pertumbuhan penduduk di Bekasi menunjukkan keunikan. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya urbanisasi membawa orang dari bagian lain negara itu untuk masuk dan tinggal di Bekasi. Mereka datang sebagian besar untuk satu alasan utama: memikat kesempatan kerja yang tersedia di Jakarta dan mereka memilih Bekasi yang terletak hanya melempar batu dari itu kota metropolitan. Zona penyangga seperti Bekasi adalah tujuan yang tepat bagi mereka untuk tetap karena otoritas Jakarta menolak orang untuk menetap kecuali mereka memiliki pekerjaan tetap. Pada sisi warga Jakarta asli lainnya yang disebut Betawi "menyapu" dari tempat asal mereka dan pindah ke daerah pinggiran kota sekitar Jakarta termasuk ke Bekasi. Itu terjadi sebagai konsekuensi dari perkembangan pesat dalam Jakarta yang membutuhkan banyak lahan untuk dikembangkan menjadi properti baru dan infrastruktur.

Sumber: Agus Fanani

Mereka Batawineses yang mewarisi bidang tanah dari nenek moyang mereka bersedia untuk menjual untuk harga yang sangat menarik dan memutuskan untuk membeli tanah murah di daerah lain di zona penyangga. Hal ini menunjukkan bahwa zona penyangga Jakarta yang memiliki akronim populer: Jabodetabek, singkatan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi adalah daerah favorit bagi masyarakat kota untuk hidup berdasarkan beberapa alasan:

Kota yang dikenal sebagai Kota Patriot.

Bekasi juga dikenal kota Patriot. Nama ini diberikan dating kembali ke sejarah ketika bangsa berjuang untuk mendapatkan kemerdekaan dari pendudukan asing.

Ribuan pejuang mengorbankan hidup mereka di garis depan pertempuran. Setidaknya ada threebig pertempuran heroik yang mengambil banyak korban:

Bekasi lautan api. Itu terjadi pada bulan November 1945 ketika lebih dari 8 desa di Bekasi dibakar membuat langit begitu gelap ditutupi dengan mengepul asap hitam dan menewaskan ribuan orang.

Rawa Gede pembantaian, itu terjadi pada 9 Desember, 1947 ketika pasukan musuh mencoba untuk mencari desa Rawa Gede untuk menemukan seorang komandan bernama Kapten Lukas Kustario tapi akhirnya sia-sia. Mereka marah dan menyalahkan orang-orang lokal. Penduduk desa, terutama laki-laki dan anak-anak laki-laki, dibantai dan mengakibatkan lebih dari 400 orang tak berdosa tewas.

Sasak Kapuk pertempuran. Ini adalah pertempuran besar lain yang dipimpin oleh pahlawan KH Noer Alie. Pertempuran berlangsung pada 29 November 1945 antara dua kota Karawang -Bekasi. Ribuan orang tewas dalam perang ini sehingga menyentuh hati dan pikiran seorang penyair terkenal Chairil Anwar menulis puisi terkenal "Antara Karawang Bekasi" (Antara Karawang-Bekasi) pada masa itu.

Upeti dituangkan ke kepahlawanan mereka dalam bentuk monumen dibangun di beberapa tempat dari Bekasi: Revolusi Monumen Bekasi Orang-orang di alun-alun kota, Revolusi Monumen Perjuangan Rakyat di Bekasi, datar Rumah Monument, Menunjukkan Bambu Monumen dan banyak lagi.

Ya, monumen membuktikan bahwa bambu runcing adalah senjata yang paling umum untuk digunakan selama perang revolusi (1945-1949) oleh prajurit melawan pasukan musuh yang bersenjata dengan persenjataan modern.

Cepat Pembangunan Kota.

Saya pindah ke Bekasi pada tahun 1992. Ini digunakan untuk menjadi kecil dan tenang dengan wajah biasa atau pedesaan didominasi kota. Hanya ada beberapa bangunan bertingkat ditemukan. Jalan-jalan yang kasar, beberapa bahkan tidak ada belum atau masih dalam perencanaan di cetak biru. Saya masih ingat pengalaman saya sekitar tahun 1995 ketika saya mencoba untuk memasuki kota dari salah satu jalan utama yang disebut Jl. KH. Noer Alie atau jalan Kali Malang dari Jakarta, saya tidak mampu mencapai Bekasi sebagai dekat ujung jalan, dekat yang terletak sebuah mal besar "Metropolitan Mall" hari ini, tidak sepenuhnya dibangun belum.
Bekasi komuter menyetor mobil dan sepeda motor mereka di tempat parkir yang tersedia saat mereka pergi bekerja di Jakarta dengan kereta api.
Bekasi komuter menyetor mobil dan sepeda motor mereka di tempat parkir yang tersedia saat mereka pergi bekerja di Jakarta dengan kereta api.

Bekasi saat ini memiliki berubah banyak sebagai hasil dari perkembangan pesat. Itu telah berkembang menjadi besar, daerah perkotaan yang padat. Mobil dan sepeda motor telah secara signifikan menempati jalan-jalan dan membuat kemacetan lalu lintas di beberapa daerah seperti adegan sehari-hari. Perumahan menjamur, mal dan pusat perbelanjaan yang ditemukan di banyak bagian dan akan meningkat jumlahnya di tahun-tahun mendatang. Mereka pusat perbelanjaan menawarkan kenyamanan dalam berbelanja dan mengintensifkan promosi sehingga kehadiran mereka juga menjadi ancaman potensial untuk pasar tradisional yang tampaknya tidak memiliki kekuatan untuk bersaing meskipun mereka juga menawarkan keuntungan untuk pembeli dalam hal yang harga umumnya lebih murah dan selalu dinegosiasikan.
Efek samping lain yang mengerikan dari pembangunan adalah jumlah kendaraan di jalan, khususnya sepeda motor dan mobil. Ada saat-saat seperti jam sibuk di pagi hari, di malam hari atau pada hari-hari raya ketika sebagian besar kendaraan yang dioperasikan dan melebihi kapasitas jalan-jalan sehingga masalah lalu lintas yang parah terjadi. Efek yang diprediksi: kemacetan lalu lintas, polusi udara, menekan-buang waktu dan energi adalah beberapa untuk disebutkan.
Konstruksi perumahan baru yang intensif dan ekstensif terlalu sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk. Banyak ruang terbuka yang digunakan untuk menjadi daerah tangkapan air telah mengeras dengan semen dan aspal. Perkembangan ini memang perlu bagi kita untuk hidup lebih sopan, tetapi di sisi lain itu membawa konsekuensi yang tidak diinginkan seperti akumulasi sampah yang mencemari saluran air limbah, banjir, dan trigonometri masalah yang lebih sosial.

Kita semua percaya bahwa pembangunan selalu memiliki dua wajah yang membawa kebaikan dan keburukan. Pandangan yang komprehensif saya tentang kota ini masih positif pula karena kota telah memberikan penduduknya dengan kenyamanan penting seperti meningkatnya jumlah sekolah yang berkualitas, rumah sakit dan meningkatnya jumlah mal dan pusat perbelanjaan juga bermanfaat bagi kita dalam menawarkan produk yang lebih kompetitif. Saya selalu berharap bahwa kota saya memberikan nilai lebih positif daripada sisi negatif.

Sumber: Agus Fanani

SEJARAH KOTA BEKASI

Sejarah Kota Bekasi


 Dayeuh Sundasembawa atau Jayagiri, itulah sebutan Bekasi tempo dulu sebagai Ibukota Kerajaan Tarumanagara (358-669). Luas Kerajaan ini mencakup wilayah Bekasi, Sunda Kelapa, Depok, Cibinong, Bogor hingga ke wilayah Sungai Cimanuk di Indramayu. Menurut para ahli sejarah dan fisiologi, leatak Dayeuh Sundasembawa atau Jayagiri sebagai Ibukota Tarumanagara adalah di wilayah Bekasi sekarang.
 Dayeuh Sundasembawa inilah daerah asal Maharaja Tarusbawa (669-723 M) pendiri Kerajaan Sunda dan seterusnya menurunkan Raja-Raja Sunda sampai generasi ke-40 yaitu Ratu Ragumulya (1567-1579 M) Raja Kerajaan Sunda (disebut pula Kerajaan Pajajaran) yang terakhir.
Wilayah Bekasi tercatat sebagai daerah yang banyak memberi infirmasi tentang keberadaan Tatar Sunda pada masa lampau. Diantaranya dengan ditemukannya empat prasasti yang dikenal dengan nama Prasasti Kebantenan. Keempat prasasti ini merupakan keputusan (piteket) dari Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi, Jayadewa 1482-1521 M) yang ditulis dalam lima lembar lempeng tembaga.
Sejak abad ke 5 Masehi pada masa Kerajaan Tarumanagara abad kea 8 Kerajaan Galuh, dan Kerajaan Pajajaran pada abad ke 14, Bekasi menjadi wilayah kekuasaan karena merupakan salah satu daerah strategis, yakni sebagai penghubung antara pelabuhan Sunda Kelapa (Jakarta).
 Sejarah Sebelum Tahun 1949
 Kota Bekasi ternyata mempunyai sejarah yang sangat panjang dan penuh dinamika. Ini dapat dibuktikan perkembangannya dari jaman ke jaman, sejak jaman Hindia Belanda, pundudukan militer Jepang, perang kemerdekaan dan jaman Republik Indonesia. Di jaman Hindia Belanda, Bekasi masih merupakan Kewedanaan (District), termasuk Regenschap (Kabupaten) Meester Cornelis. Saat itu kehidupan masyarakatnya masih di kuasai oleh para tuan tanah keturunan Cina. Kondisi ini terus berlanjut sampai pendudukan militer Jepang. Pendudukan militer Jepang turut merubah kondisi masyarakat saat itu. Jepang melaksanakan Japanisasi di semua sektor kehidupan. Nama Batavia diganti dengan nama Jakarta. Regenschap Meester Cornelis menjadi KEN Jatinegara yang wilayahnya meliputi Gun Cikarang, Gun Kebayoran dan Gun Matraman.
 Setelah proklamasi kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1945, struktur pemerintahan kembali berubah, nama Ken menjadi Kabupaten, Gun menjadi Kewedanaan, Son menjadi Kecamatan dan Kun menjadi Desa/Kelurahan. Saat itu Ibu Kota Kabupaten Jatinegara selalu berubah-ubah, mula-mula di Tambun, lalu ke Cikarang, kemudian ke Bojong (Kedung Gede), pada waktu itu Bupati Kabupaten Jatinegara adalah Bapak Rubaya Suryanaatamirharja.
 Tidak lama setelah pendudukan Belanda, Kabupaten Jatinegara dihapus, kedudukannya dikembalikan seperti zaman Regenschap Meester Cornelis menjadi Kewedanaan. Kewedanaan Bekasi masuk kedalam wilayah Batavia En Omelanden. Batas Bulak Kapal ke Timur termasuk wilayah negara Pasundan di bawah Kabupaten Kerawang, sedangkan sebelah Barat Bulak Kapal termasuk wilayah negara Federal sesuai Staatsblad Van Nederlandsch Indie 1948 No. 178 Negara Pasundan.
 Sejarah Tahun 1949 sampai Terbentuknya Kota Bekasi
 Sejarah setelah tahun 1949, ditandai dengan aksi unjuk rasa sekitar 40.000 rakyat Bekasi pada tanggal 17 Februari 1950 di alum-alun Bekasi. Hadir pada acara tersebut Bapak Mu’min sebagai Residen Militer Daerah V. Inti dari unjuk rasa tersebut adalah penyampaian pernyataan sikap sebagai berikut :
 1. Rakyat Bekasi tetap berdiri di belakang Pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
2. Rakyat bekasi mengajukan usul kepada Pemerintah Pusat agar kabupaten Jatinegara diubah menjadi Kabupaten Bekasi.
 Akhirnya berdasarkan UU Nomor 14 Tahun 1950 terbentuklah Kabupaten Bekasi, dengan wilayah terdiri dari 4 kewedanaan, 13 kecamatan (termasuk Kecamatan Cibarusah) dan 95 desa. Angka-angka tersebut secara simbolis diungkapkan dalam lambang Kabupaten Bekasi dengan motto “SWATANTRA WIBAWA MUKTI”. Pada tahun 1960 kantor Kabupaten Bekasi berpindah dari Jatinegara ke kota Bekasi (jl. H Juanda). Kemudian pada tahun 1982, saat Bupati dijabat oleh Bapak H. Abdul Fatah Gedung Perkantoran Pemda Kabupaten Bekasi kembali dipindahkan ke Jl. A. Yani No.1 Bekasi. Pasalnya perkembangan Kecamatan Bekasi menuntut dimekarkannya Kecamatan Bekasi menjadi Kota Administratif Bekasi yang terdiri atas 4 kecamatan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 1981, yaitu Kecamatan Bekasi Timur, bekasi Selatan, Bekasi Barat dan Bekasi Utara, yang seluruhnya menjadi 18 kelurahan dan 8 desa. Peresmian Kota Administratif Bekasi dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri pada tanggal 20 April 1982, dengan walikota pertama dijabat oleh Bapak H. Soedjono (1982 – 1988). Tahun 1988 Walikota Bekasi dijabat oleh Bapak Drs. Andi Sukardi hingga tahun 1991 (1988 - 1991, kemudian diganti oleh Bapak Drs. H. Khailani AR hingga tahun (1991 – 1997)
 Pada Perkembangannya Kota Administratif Bekasi terus bergerak dengan cepat. Hal ini ditandai dengan pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi dan roda perekonomian yang semakin bergairah. Sehingga status Kotif. Bekasi pun kembali di tingkatkan menjadi Kotamadya (sekarang “Kota”) melalui Undang-undang Nomor 9 Tahun 1996 Menjabat Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II Bekasi saat itu adalah Bapak Drs. H. Khailani AR, selama satu tahun (1997-1998). Selanjutnya berdasarkan hasil pemilihan terhitung mulai tanggal 23 Pebruari 1998 Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II Bekasi definitif dijabat oleh Bapak Drs. H Nonon Sonthanie (1998-2003).
 Dalam perkembangannya, telah terjadi perubahan jumlah dan status kelurahan/desa. Maka, berdasarkan surat Menteri Dalam Negeri bernomor 140/2848/PUOD tanggal 3 Februari 1998 dan sesuai keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jawa Barat Nomor 50 Tahun 1998, mengubah status 6 desa menjadi kelurahan, pemecahan 2 kelurahan baru. Sehingga jumlah desa/kelurahan di Kotamadya Daerah Tingkat II Bekasi menjadi 52 desa. Masing-masing 35 jumlah kelurahan dan 17 jumlah desa.

Seiring dengan berlakunya UU Nomor 22 Tahun 1999 Tentang Otonomi Daerah telah mengubah paradigma penyelenggaraan pemerintah daerah. Atas landasan itu pula nomenklatur pemerintah daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Bekasi berubah menjadi Kota Bekasi. Berdasarkan UU Nomor 22/1999, Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 25 Tahun 2000 Tentang Kewenangan Pemerintah dan Provinsi sebagai Daerah Otonomi serta PP Nomor 84 Tahun 2000 Tentang Pedoman Organisasi Pejabat Daerah, telah melahirnya peraturan daerah Nomor 9, 10, 11 dan 12 Tentang Pengaturan Organisasi Perangkat Daerah.

Untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat lewat Perda (peraturan daerah) maka terbitlah Perda Nomor 14 Tahun 2000 yang menyesahkan terbentuknya 2 kecamatan baru: Kecamatan Rawa dan Medan Satria. Sehingga Kota Bekasi terdiri atas 10 kecamatan. Dan berdasarkan Perda Kota Bekasi Nomor 02 Tahun 2002 Tentang Penetapan Kelurahan, maka seluruh desa yang ada di Kota Bekasi berubah status menjadi kelurahan, sehingga Pemko (pemerintah kota) Bekasi mempunyai 52 pemerintahan di kelurahan.

Seiring waktu perjalanan Pemko Bekasi mengalami pemekaran kembali. Itu didukung oleh Perda Pemko Bekasi Nomor 4 Tahun 2004 Tentang Pembentukan Wilayah Administrasi kecamatan dan kelurahan, maka wilayah administrasi Kota Bekasi menjadi 12 kecamatan dan 56 kelurahan. Semua itu ditempuh untuk meningkatkan pelayanan dan mengayomi masyarakat yang ada di wilayah Administrasi Kota Bekasi. Tak lama kemudian, terbitlah Keputusan DPRD Kota Bekasi Nomor 37-174.2/DPRD/2003 tertanggal 22 Februari 2003 tentang penetapan walikota Bekasi dan wakilnya periode 2003-2008. Yang dilanjutkan dengan keputusan Mendagri bernomor: 131.32-113 Tahun 2003 Tentang Pengesahan Walikota Bekasi, Jawa Barat. Dan keputusan Mendagri Nomor: 132.32-114 Tahun 2003 Tentang Pengesahan Walikota Bekasi, Jawa Barat H Akhmad Zurfaih HR, S.Sos yang didampingi oleh Mochtar Mohamad.

Menjelang hari kelahiran (jadi) Pemko Bekasi yang ke-9 tahun 2006, lokasi perkantoran atau pusat ibukota Pemko Bekasi dialihkan ke Jalan Jend. Ahmad Yani Nomor 1 Kecamatan Bekasi Selatan yang sebelumnya berpusat di Jalan Ir Juanda. Alasan pemindahan itu berlandaskan atas persetujuan penetapan pusat ibukota Pemko Bekasi yang disahkan oleh lembaga DPRD Kota Bekasi bernomor: 27/174.2/DPRD/2005 Tentang Persetujuan Pemindahan Pusat Ibukota Pemko Bekasi tertanggal 25 Juni Tahun 2005. Yang diketahui oleh Gubernur Jawa Barat dan Mendagri RI.

Di hari jadi Pemko Bekasi yang ke-10, yang bertepatan tanggal 11 Maret 2007, Pemko Bekasi telah melaksanakan berbagai aktivitas pemerintahan yang berpusat di Jl Jend Ahmad Yani No 1 Bekasi Selatan. Dan kondisi perkantoran representatif sebagai pusat dan pelayanan masyarakat Kota Bekasi.

Pada pemilu legislatif 2004 telah mengantarkan 54 orang wakil rakyat Kota Bekasi dari delapan partai politik: PKS (11), Golkar (9), PD (7), PAN (6), PDI-P (6), PPP (4) PDS (1), PBB (1). Periode 2004-2009, yang terpilih sebagai pimpinan DPRD Ketua H Rahmat Effendi, S.Sos, M.Si, (F-Golkar), didampingi oleh H Dadang Asgar Noor (F-PD) dan H Ahmad Saikhu (F-PKS).

By Riza F (rdo_tatausaha)

ASAL USUL NAMA KOTA BEKASI

INILAH ASAL-USUL NAMA BEKASI

Bekasi bukan kota sembarangan. Nama kota ini tercatat dalam sejarah melalui prasasti tugu tulis peninggalan Kerajaan Tarumanagara.

Asal-usul nama Bekasi secara filologis berasal dari candrabhaga. Candra berarti bulan atau sasi dalam bahasa Jawa Kuno. Dan bhaga berarti bagian. Jadi Candrabhaga berarti bagian dari bulan.

Pelafalan kata Candrabhaga kadang berubah menjadi Sasibhaga atau Bhagasasi. Namun dalam pengucapannya sering disingkat Bhagasi. Dan karena pengaruh bahasa Belanda sering ditulis Bacassie.

Di Stasiun Kereta Api Lemahabang pun pernah ditemukan plang nama Bacassie. Dan seiring waktu, kata Bacassie kemudian berubah menjadi Bekasi sampai sekarang. 

Penggalian 2 Sungai

Pada masa pemerintahan Raja Purnawarman dari Kerajaan Tarumanagara, diperintahkan penggalian 2 sungai untuk kebutuhan irigasi. Dua Sungai itu yakni Sungai Candrabhaga (Kali Bekasi) dan Sungai Gomati.

Candrabhaga dan Gomati adalah 2 sungai yang terkenal di Tanah Hindu, India. Penggalian 2 sungai ini mengindikasikan mulai dibukanya lahan pertanian yang subur di daerah ini.

Selain itu, tujuan penggalian adalah mengalirkan air sungai tersebut ke laut, setelah melewati istana kerajaannya. Penggalian dilakukan pada tahun ke-22 masa pemerintahan Raja Purnawarman bulan phalguna dan caitra, bertepatan dengan bulan Februari dan April menurut perhitungan tahun Masehi. 

Panjang galian 6.122 tumbak atau 11 kilometer. Diduga, saluran itu dibuat untuk mengatasi banjir yang selalu melanda daerah pertanian setiap kali hujan paling lebat melanda tanah Jawa Barat di bulan Januari dan Februari. Acara selamatan dan syukuran pun digelar para brahmana disertai pemberian hadiah berupa 1.000 ekor sapi. 

Tak cuma Tarumanagara, sejumlah kerajaan lain juga pernah menjadikan Bekasi sebagai wilayahnya. Misalnya Padjajaran, Sumedanglarang (bagian dari Kerajaan Mataram), dan Jayakarta. Ada 1 lagi nama kerajayaan yang dipercaya pernah memerintah Bekasi, yakni Segara Pasir. 

Dipercaya, Kerajaan Segara Pasir inilah yang pertama ada di Bekasi. Jauh sebelum Kerajaan Tarumanagara. 

Berdasarkan UU Nomor 14 Tahun 1950, terbentuklah Kabupaten Bekasi, dengan wilayah terdiri dari 4 kewedanaan, 13 kecamatan (termasuk Kecamatan Cibarusah), dan 95 desa. Angka-angka tersebut secara simbolis diungkapkan dalam lambang Kabupaten Bekasi dengan motto 'Swatantra Wibawa Mukti'. 


Pada perkembangannya, di Kabupaten Bekasi dibentuklah Kota Administratif Bekasi pada 1981 yang seluruhnya meliputi 4 kecamatan, 18 kelurahan, dan 8 desa. (Sun)
Sumber : liputan6.com